Hari ini saya tau gimana rasanya ketika sesuatu yang sudah (ikut) dibangun sekian lama harus hancur begitu saja.
Ada rasa kesal, marah dan sedih, pastinya.
Ada rasa jijik juga.
Jijik ketika tau kalau sebenarnya, semua itu hanya karena salah satu orang.
Kalau biasanya saya selalu berusaha menganggap semua yang dilakukan bersama wajib ditanggung bersama juga (baik buruknya), kali ini saya mau mengikuti cara satu orang.
Menyalahkan orang lain saja.
Pengen tau gimana rasanya ngerasa paling bener.
Hari ini saya juga diingatkan kalau, hal kecil itu bisa punya efek yang (lebih) bahaya kalau dibiarkan terlalu lama.
Kalau kekuasaan adalah sesuatu yang emang nggak bisa dikasih ke sembarang orang.
Kalau orang yang paling kuat berkoar – koar, belum tentu yang paling perduli.
Kalau orang yang paling rajin beribadah, belum tentu yang hatinya paling bersih.
( Yang terakhir sih udah tau lama ~~ )
Kalau orang yang nggak pernah mau mengakui kesalahan adalah orang yang … yang … lucu juga kalo didorong ke sumur.
Dan taukah anda, wahai pemirsa sekalian, mengakui kesalahan itu bukan sesuatu yang akan membuat anda – tiba – tiba – dilindes kereta api kok. Ya kecuali mengakui kesalahannya itu sambil berdiri di tengah rel kereta api.
* YA MENURUT LO AJA, YUN! *
Kadang, dengan mengakui kesalahan justru bisa membuat keadaan jadi lebih baik. Walau sedikit. Kadang yang orang lain butuh itu cuma kalimat,
” Maaf ya, kalau aku ada salah. Kalau aku udah bikin kecewa/kesel kalian. “
Cuma itu kok.
Kadang yang orang lain butuh itu cuma kalimat,
” Wah, hasil kerja kamu kali ini bagus ya! “
Banyak orang masih harus belajar, apa bedanya “pujian” dan “apresiasi”. Bedanya itu tipis sekali loh. Setipis silet!
*setajam kaleeee, Mbaaak!*
Orang yang sama juga mungkin harus belajar, apa bedanya “kritik” dan “(usaha) menjatuhkan (orang lain)”.
(Masih) orang yang itu – itu juga masih harus belajar bagaimana menyampaikan sesuatu tanpa harus membentak. Coba tunjukkan kalau dia pantas dihargai dengan cara yang lain. Bukan cuma dari jumlah umur atau – yah, katakanlah … pengalaman.
Sikap sombong nggak bakal ngebuat seseorang dihargai oleh orang lain. Ngebuat orang lain pengen nimpukin pake batu bata sih … mungkin.
Saya sih nggak pernah diajarin untuk memandang seseorang dari hal – hal superfisial macam status sosial, posisi / jabatan, atau pengalaman ini itu. Dan saya sendiri menambahkan “usia” ke dalam daftar.
Buat saya, orang yang pantas dihargai itu hanyalah orang yang bisa menghargai orang lain.
Karena, menurut saya, “memberikan” sesuatu ke orang yang nggak ngerti arti dari sesuatu yang dikasih ke dia itu sama dengan tindakan bodoh!
Nggak bakal di jaga pastinya.
Mending dikasih ke orang lain aja.
Saya nggak pernah – katakanlah – tertarik dengan orang yang terlalu “manis” kata-katanya. Yang terlalu mengumbar pujian juga suka bikin ngerasa aneh. Saya nggak pernah berharap dipuja-puji. Cuma apresiasi.
Intinya,
hari ini saya gak cuma diingatkan pada banyak hal, tapi juga belajar banyak hal. Entah itu tentang diri sendiri, atau juga tentang orang lain. Tentang kata – kata yang keluar dari mulut, sikap sok baik, sok memiliki, sok benar, sok ini, sok itu, sok … atuh nyemplung sumur aja, neng.
Saya juga nggak akan bilang kalau saya paling benar. Saya juga punya salah dan saya sudah mengakui itu di depan orang yang perlu tau tentang itu. Mungkin ketidakmampuan saya untuk “mencari muka” juga termasuk kesalahan. Tapi saya, dibayar pun, nggak akan mau untuk mengklaim kalau saya ini “orang benar”. Mungkin karena itu saya tidak difitnah. Karena – KATANYA – orang benar itu selalu difitnah.
KA-TA-NYA loh ya.
Kata siapa?
Entah.
Tanya noh ama panci.
Saya akan menutup postingan tanpa arah – seperti biasa – ini dengan mengucapkan, semoga semuanya bisa jadi lebih baik. Saya yakin, banyak yang bisa diambil dari sini. Nggak, saya nggak bakal bilang “semua ada hikmahnya”. That’s not me. Tapi ini jelas proses belajar. Entah untuk saya sebagai pribadi atau untuk teman – teman yang lain sebagai satu tim. Yang jelas, saya cukup bangga bisa bekerja sama dengan orang – orang yang sekarang. Yah, kecuali satu – dua orang deh ya.
Dari lubuk hati yang paling dalam *tsaaaah!Tapi beneran loh*, saya sangat menyayangkan kejadian hari ini. Dan semoga keputusan yang diambil hari ini bukan sesuatu yang permanen. Karena saya yakin, kami – saya dan teman – teman yang lain – itu bisa menghasilkan sesuatu yang baik dan lebih baik lagi asal tidak ada orang yang sibuk mengurusi ini – itu yang bukan urusannya.
Maaf, saya sih lebih seneng kerja bareng orang – orang yang nggak banyak omong.
Akhir kata, marilah kita sama – sama mengingat kalau, ” respect is EARNED not given.”
Sekian dan terima Shannon Leto.
Halah.

